Kisah Umar dan Orang yang Lemah

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu merupakan salah seorang sahabat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang dijamin masuk surga. Sepeninggal Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, beliau dibaiat menjadi Khalifah baru dengan julukan “Amirul Mu’miniin” atau “Pemimpin Orang-orang Mu’min”.


Berikut ini adalah salah satu kisah beliau yang masyhur sampai saat ini.


(Suatu Ketika) Umar bin Khaththab dan Sahabatnya keluar dari rumah di (suatu) malam yang sangat dingin. Mereka berdua ingin berkeliling negeri (ronda malam).


Maka ketika dipertengahan perjalanan, Dia melihat api (lampu) yang menyala. Umar dan sahabatnya (kemudian) mendekatinya (dan mereka) melihat seorang ibu (امرأة) dan anak-anaknya (yang masih bayi) di sebuah gubuk. Anak-anaknya sedang meangis karena lapar, dan disamping gubuk ada periuk yang ditempatkan di atas api (untuk memasak).


Umar bin Khaththab bertanya kepada sang ibu tentang keadaan anak-anaknya dan bertanya (juga) tentang apa yang  di dalam periuk itu. Maka tampaklah oleh Umar periuk itu berisi air dan batu-batu. (Itu) untuk menenangkan anak-anaknya. Kemudian berkatalah sang Ibu, “Allah ada diantara kami dengan Umar. (Allah yang mencukupi kami daripada Umar)” (Karena sang Ibu tidak mengetahui siapa yang mendatanginya itu).

Maka Umar menjawab, “Barangkali Umar tidak mengetahui kabar (keadaan) kalian.”

Maka kemudian Sang Ibu berkata, “Dia telah berpaling dari urusan (masalah) kami dan melalaikan kami.”

Setelah itu, maka Umar bergegas pergi ke Baitul Maal.

Umar mengambil gandum dan minyak sayur, kemudian membawanya kepada Sang Ibu tadi. Sahabatnya pun ingin membantunya. Lantas Umar marah kepadanya dan berkata, “Kau membawakankan untukku beban dosa-dosaku pada hari kiamat? Tidak Mungkin!”. Lalu Umar membawa karung berisi gandum dan wadah air (semacam jerigen) berisi minyak sayur dengan tangannya sendiri dari Baitul Maal. Sampai-sampai punggungnya berkeringat. (Padahal, kondisi malam itu sangat dingin di tengah jazirah arab)

Umar segera pergi dengan berjalan cepat sampai tiba di gubuk Ibu tadi. Kemudian diletakkanlah karung dan jerigen tadi dari punggungnya. Kemudian diberikan kepada sang Ibu. Setelah itu, dia nyalakan tungku untuk memasak makanan. Umar meniup (api) di bawah periuk. Sampai sang sahabat bisa melihat asap dari sela-sela jenggot Umar. Dan Umar itu berjenggot amat lebat.

Ketika makanannya telah matang, Umar meminta piring saji yang besar kepada sang Ibu. Kemudian Umar menuangkan makanan ke atasnya (piring saji) dan Sang Ibu menyuapi anak-anaknya sampai kenyang. Anak-anaknya pun makan dengan lahab.

Sang Ibu berkata kepadanya (Umar), “Engkau lebih mengurusi perkara ini daripada Umar.” Kemudian Umar bersegera pulang ke rumahnya. Lalu Umar melangkah beberapa langkah dan menghadap ke arah gubuk serta duduk di jalan untuk melihat mereka.Maka dia lihat mereka bermain dan mereka tertawa, kemudian mereka tertidur dengan nyenyak. 

Umar kemudian Memuji Allah Ta’aala seraya berkata, “Sesungguhnya rasa lapar membuat mereka susah tidur dan membuat mereka menangis. Maka aku lebih senang tidak beranjak dari tempat ini sampai melihat mereka bermain, tertawa, kemudian mereka tertidur.”

Demikian salah satu kisah Amirul Mu’miniin, Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu yang masyhur sampai saat ini. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari sejarah para Ulil Amri terdahulu. Wallahu a’laam bish showaab.

 


                    
                
	            

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *