Rasulullah & Ummi

Mencintai rasulullah (mahabbaturrasul) merupakan tahapan kedua setelah mencintai Allah (mahabbatullah), karenanya cinta kita terhadap rasul haruslah menjadi cinta tertinggi kita kepada manusia, melebihi diri kita sendiri.

Namun, seringkali kabar negative terdengarkan di telinga kita, sehingga kadang sulit bagi kita mendatangkan kecintaan kita pada beliau, salah satu hal yang sering di nisbatkan kepada rasul adalah sifat ummi yang seringkali di artikan buta huruf atau tidak bisa membaca dan menulis.

Dalam menyikapi hal ini, kita harus melihat kata ummi dari makna asal, yaitu kata ummi berasal dari kata umm di tambah ya’ nisbah (yang bisa di artikan kepemilikan atau pensifatan pada seseorang, contohnya orang arab di panggil arabiy, Indonesia di panggil andunisiy, dsb.) sehingga jika di hubungkan pada ilmu pengetahuan maka kata ummi berati rasulullah sebagai sumber ilmu pengetahuan, yang mana bisa di artikan rasulullah merupakan orang yang cerdas bahkan jenius tanpa harus membaca dan menulis.

Ada dua tingkatan kecerdasan pada manusia, yang pertama adalah dzakiy atau orang yang cerdas, dan yang kedua adalah abqoriy atau orang yang jenius, tetapi rasulullah berada pada tingkat fathonah, yang berati kecerdasan yang melebihi kejeniusan manusia pada umumnya, lantas mengapa harus tanpa membaca dan menulis?? Ini karena Allah ingin menunjukkan kekuasaannya dengan menciptakan seorang manusia yang jenius, walaupun tanpa membaca dan menulis, bahkan seorang Einstein yang di anggap orang yang jenius pun perlu membaca dan menulis, dan yang menginspirasinya tidak lain adalah tulisan seorang cendikiawan muslim, yaitu ibnu sina.

Apa bukti rasulullah adalah orang yang jenius?? Bukti paling konkrit yang kita ketahui adalah kepekaan beliau dalam menangkap datangnya wahyu, ini hanya bisa di rasakan oleh beliau, rasul pernah berkata “wahyu datang kepadaku terkadang seperti suara angin dan terkadang juga seperti suara lonceng .”  Jika bukan karena beliau manusia yang jenius maka tidaklah mungkin beliau bisa menangkap datangnya wahyu.

Maka dari itu, kita tidak perlu lagi memaknai kata ummi sebagai kata  yang negative, justru karena rasulullah seorang ummi menjadikan beliau sebagai teladan sempurna yang patut kita contoh, sebagaimana yang beliau sabdakan dalam sebuah hadist “menunutut ilmu wajib bagi setiap muslim.” Karena teladan kita adalah orang yang sangat cerdas dan juga seorang  sukses di dunia dan di akhirat, maka kita juga harus juga menuntut ilmu agar minimal faham terhadap apa yang beliau ajarkan, sehingga kita bisa mencontohnya untuk sukses di dunia maupun di akhirat.

semoga tulisan ini menjadikan kecintaan kita pada rasulullah bertambah, sehingga kita mudah untuk mengikuti beliau dengan mengamalkan sunah-sunahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *